Cerita Sek - Hanya Kau dan Aku

 Hasil gambar untuk foto manis
Kumpulan Cerita Sek 2016,Cerita Sek Remaja,Cerita Sek Selingkuh,Cerita sek Pemerkosaan,Cerita Sek Pramugari,Cerita Sek Mesum 2016.-Apa jadinya bila anak SMP berpacaran dengan anak SMA? Ah sebaiknya kamu merasa pe-de saja. Karena kalau tidak pe-de nasibmu akan sama dengan Nadia. Jelas-jelas cowok SMA di komplek rumahnya naksir dia kenapa dia harus menghindar, takut dan merasa tidak pantas?

Bagaimana kelanjutan cerita cinta mereka?
Bab I. Tetangga Misterius.

Cowok bersepeda itu melintas lagi di depan rumah. Hampir setiap sore aku melihatnya melintasi depan rumahku. Kadang jika hari libur pagi-pagi aku melihatnya melintas juga di depan rumahku.

Bukannya aku tukan survey jalan ya, yang melototin orang yang lewat depan rumahku. Tapi cowok bersepeda itu sungguh aneh, dia selalu melintas pada jam-jam aku sedang menyiram bunga atau sedang menyapu halaman. Kebetulan rumahku tidak berpagar besi atau beton tinggi, rumahku hanya berpagar bunga soka yang dipotong rapi oleh Ayah sehingga nampak siapa saja yang melintas di depan rumah.

Setahuku cowok itu juga bukan cowok yang biasa nongkrong di pertigaan dekat rumah, walaupun kadang terlihat dia ikut bersenda gurau dengan cowok-cowok yang ada di situ tapi dia hanya sebentar dan tidak berlama-lama. Tapi yang aku yakini cowok itu pasti masih anak komplek sini, terlihat dari keakrabannya dengan cowok-cowok yang tukang nongkrong juga dari sepedanya, eh maksudku kalau rumahnya jauh tidak mungkinkan dia bersepeda kesini hanya untuk sekedar muter-muter nggak jelas. Kalau berniat untuk olahragapun tidak juga karena outfitnya tidak seperti orang yang mau berolahraga.

Lagipula kemunculannya seperti sudah terencana, setiap kali aku menyapu atau menyiram bunga dia pasti lewat. Pernah suatu ketika kami bertatap mata, namun sebuah senyum atau sapa tidak ada yang terucap dari kami berdua. Akupun entah apa yang kurasa, aku malah kabur ke dalam rumah tanpa menyelesaikan sisa sapuan di halaman padahal cowok itu lewat lagi, tapi aku hanya memandanginya dari jendela, entah takut, entah malu, yang jelas tangan dan lututku gemetaran.

***
“Hemmm enaaakkk, rujak bikinan Ibu Nadia emang paling uenak….” Komentar Rista, teman sekelasku.

“Aku lupa tadi Nad mau bawa jambu, di rumahku jambu air sedang banyak berbuah lho…” Timpal Dina teman sebangkuku.

“Ah, elu Di, ngomong doang…. “ Rista mengomentari Dina dengan sengit.

“Ya udah besok gentian kita kerumah Dina, ngabisin jambunya…” sahutku diiringi tawa teman-teman yang lain.

Hari ini teman-temanku datang ke rumahku. Kebetulan ibu sedang bikin rujak, jadi aku undang teman-teman sekelasku seperti Dina, Rista, Diyah, Fita dan Ambar. Kadang kami ke rumah teman yang lain, sekedar ber haha-hihi menghilangkan jenuh setelah seharian belajar. Diantara mereka berlima Dina yang paling sering curhat sama aku, sedangkan aku sendiri malah lebih sering curhat dengan Ambar.

Sampai sore teman-temanku belum pulang masih asyik bercengkarama hingga tiba-tiba Ambar mengagetkan kami dengan sebuah rahasianya.
“Sssst sssst.” Katanya.

Seperti dikomando, kami semua terdiam.

“Ada apa?” Tanya Diyah.

“Ada cowok cakep.” Sahut Ambar sekenanya.

“Hah?! Siapa?” tanyaku heran, karena selama ini tidak ada cowok cakep di komplek ini, hehehe maksudku yang sebaya dengan kami-kami, yang masih sekolah di sekolah menengah pertama.

“Tunggu…. Sebentar lagi dia lewat.”

Tiba-tiba suasana jadi hening mendengar Ambar berbicara serius seperti itu. Akupun jadi ikut serius, penasaran dengan siapa yang bakalan lewat.

“Itu dia….yang bersepeda.”

Semua memandang cowok bersepeda itu. Hatiku tiba-tiba berdesir. Itu kan… cowok yang tiap hari lewat depan rumah.

“Ah…kamu Mbar, bisa-bisanya ya…liat cowok cakep…padahal lagi naik sepeda hihihihi.” Rista mencubit Ambar.

Setelah aku perhatikan cowok bersepeda itu memang cakep sih. Rambutnya hitam lebat dan sedikit bergelombang, kulitnya termasuk putih untuk ukuran cowok, mukanya kalo disamain sama artis ya sebelas dua belas lah sama Samuel Rizal.

“Eh Nad, kok melamun.” Yee… Dina nih gak tau orang lagi asyik.

“Eh, eh… Ambar kok tau sih ada cowok cakep yang mau lewat.” Tanyaku mencoba menghalau kegugupan.

“Emang kamu nggak tahu siapa dia Nad?” Ah sial Ambar malah balik nanya.

“Enggak.”

“Yah…kirain kamu tahu, kalo tahu kan aku mau minta dikenalin. Jadi tadi tuh ya aku liat tu cowok bersepeda bolak-balik aja sekitar sini, mungkin ada tiga kali, makanya aku jadi heran eh pas liat ternyata dia ganteng…hehehe kalian sih asyik ngobrol jadi nggak ngeh kalo ada cowok ganteng lewat bolak balik lagi.” Celoteh Ambar panjang lebar.

“Eh jangan…jangan… dia naksir sama kamu lagi Nad.” Sambung Ambar, yang membuat pipiku tiba-tiba memanas.

“Apaan sih Mbar, bikin kesimpulan tidak berdasar.” Elakku malu.
“Jelas berdasar dong Nad… dia bolak-balik entah berapa kali di depan rumah kamu, dan khusus bolak-balik aja, apa namanya kalau bukan naksir, berani taruhan deh bentar lagi pasti dia lewat…” kemudian lanjutnya “Mmmm…kita ngumpet yuk dan liat apa reaksinya di depan Nadia.”

“Ikut dooonnnggg… masak aku ditinggal sendiri disini.” Ujarku memelas.

“Iiih Nadia, kita kan mau buktiin perkataan Ambar, yuk ah kita ngumpet dan elu pura-pura beresin ni rujak yah…” perintah Rista tanpa aku sanggup menolaknya, sebab aku juga penasaran apa betul kata Ambar.

Dan cowok bersepeda itu nampak dari ujung jalan, teman-temanku segera masuk ke rumah dan aku masih di halaman membereskan sisa-sisa rujak. Aku gugup, ingin menengoknya. Tapi aku malu. Tapi aku juga penasaran. Aku ingin melihatnya.

Tanganku bergetar hebat. Hanya beberapa detik mata kami bertemu. Tapi sendiku serasa lumpuh. Lututku bergetar, jari-jari tanganku juga bergetar tanpa aku sanggup mengontrolnya.

“Lo kenapa Nad?” Tanya Rista setelah cowok bersepeda itu pergi. Aku tak bisa menjawab yang jelas aku harus segera bisa menguasai diri agar teman-temanku tidak tahu apa yang sedang terjadi padaku. Getaran yang kedua ini lebih dahsyat dari yang pertama, dan mereka tidak boleh tahu karena aku malu. Ya aku malu.

“Nggg…nggak pa-pa.”

“Hahahaha bener rupanya Nad, dari cara dia melirikmu sepertinya dia suka sama kamu.” Kata Ambar tertawa senang.

“Mana mungkin Mbar, kenal aja nggak gimana bisa suka.”

“Terserah deh Nad, asal kamu ingat ya, kalau kamu jadian sama tuh cowok kamu harus nraktir kami bakso. Oke teman-teman.”

“Oke Mbar… Deal sepakat.” Sahut mereka kompak.

Aku hanya melengos mendengar tantangan si Ambar. Duh mana mungkin orang yang tidak kukenal menyukai aku, dan kenapa aku harus selalu menggigil tiap memandang matanya? Dasar cowok bersepeda sialan sudah bikin aku penasaran!!!!!

Bab II. Mencari Tahu

Ambar benar-benar membuatku penasaran. Analisanya kurasa masuk akal. Cowok bersepeda itu bolak-balik lewat depan rumahku waktu itu, tidak mungkin tidak ada maksud di balik itu. Tapi menurutku bisa jadi cowok bersepeda itu sedang suka dengan orang lain di sekitar rumahku.

Tapi Ambar bisa mematahkan pendapatku itu. Aku dimintanya menyebutkan gadis-gadis yang ada di sepanjang jalan deretan rumahku. Ada beberapa seperti Ika, Esti dan Ririn. Namun rumah Ika dan Esti tertutup pagar tinggi, maklum anak pengusaha. Sedangkan rumah Ririn tidak berpagar tapi rumah itu masih sepi, Ririn bersama Nenek dan Kakeknya pergi keluar kota, ke rumah paman Ririn selama seminggu.

“Aku udah mastiin Nad, rumah di sekitar rumahmu yang ada anak gadisnya, yang tidak berpagar hanya rumahmu dan rumah sebelah. Tapi rumah sebelah sedang sepi tuh, jadi kemungkinan besar si cowok bersepeda itu memang sengaja bolak-balik untuk melihat kamu Nad.”

Bener juga sih kata Ambar, seperti yang kubilang tadi Ririn yang tinggal bersama Nenek dan Kakeknya sedang keluar kota ke rumah paman Ririn selama seminggu, dan setahuku Ririn itu suka pada kakakku Mas Alif.

“Jadi setuju kan sama analisaku?”

“Ah kalian ini! Mau ngerjain aku ya! Udah sana pulang udah jam lima, nanti Mama kalian marah.” Jawabku.

Mereka tertawa, entah karena melihatku yang sedang marah atau karena berhasil mengerjai aku, mengaduk-aduk perasaanku. Entahlah, yang jelas mereka kini mulai berkemas pulang dan besok pasti mereka akan mengolokku di sekolah.

***
“Sssst gimana Nad, kamu dah tahu siapa cowok bersepeda itu.” Bisik Nadia saat pelajaran Biologi, kebetulan hari ini dia duduk di belakangku.

“Belum.” Jawabku singkat takut ketahuan Bu Guru.

“Cari tahu doonnnggg aku penasaran.”

“Ambar!!! Kenapa berbisik-bisik?!” teriak Bu Guru. Tuh kan Ambar sih udah tahu Guru Biologinya galak kenapa juga dia masih berani berbisik-bisik padaku. Kelas hening seketika dan Ambar terdiam. Sejenak kemudian Bu Guru melanjutkan pelajaran.

Kemudian aku menulis sesuatu kepada Ambar

Kamu naksir ya sama cowok bersepeda kok penasaran banget?

Tak lama Ambar membalas

Hahaha boleh juga sih tampangnya, tapi sayang dia udah naksir kamu duluan. Nanti istirahat kita ketemuan di kantin yuk, aku kasih tips mencari tahu siapa si Cowok Bersepeda, aku pengen tahu kisah kelanjutannya denganmu, mungkin bisa dijadiin sinetron hehehe.

Aku tersenyum kecut membaca tulisan Ambar. Memang sih Cowok Bersepeda itu masih lewat depan rumahku tiap hari, tapi untuk mencari tahu siapa dia aku gengsi, males banget kayak nggak ada kerjaan lain. Lagian aku kan bukan detektif, plus kalau memang cowok itu naksir aku kenapa dia tidak bertandang ke rumah dan berkenalan baik-baik.

“Udahlah Mbar, aku udah buat kesimpulan.” Aku menarik nafas sebentar, “Cowok itu nggak beneran suka sama aku, kalau dia suka kenapa dia tidak berkenalan langsung denganku? Kenapa hanya bolak-balik aja di depan rumahku?”

“Heh kamu pikir segampang itu ngajakin cewek kenalan? Apalagi cewek yang disukainya.”

“Maksudmu?”

“Tetap pada kesimpulanku semula say, cowok itu suka sama kamu.”

“Biarin aja dia suka, buat apa aku urusin.”

“Hemmm, ya nggak bisa gitu dong, kamu nggak takut apa kalo penggemarmu itu ternyata psycho. Yang kayak di film film gitu, suka tapi bisa jadi membunuh!” kata Ambar sambil mencondongkan mukanya kepadaku, membuatku terkejut saja.

“Kebanyakan nonton film kamu Mbar.”

“Saranku ya, sebaiknya kamu mulai mencari tahu siapa cowok itu, bisa dari tetangga sebelah atau dari cowok-cowok yang nongkrong di pertigaan depan rumahmu itu.” Aku hanya mengernyitkan kening mendengar nasehat Ambar.

“Ah udahlah, ngapain sih mbahas nggak penting, yang penting sekarang ni makan kamu yang bayar ya, aku mau ke toilet dulu kebelet nih.” Kataku sambil berlari. Yes! Kali ini aku berhasil ngerjain Ambar hihihihi.

***
Ambar membuat perasaanku tak karuan. Aku bahkan meminta absen menyapu halaman dan menyiram bunga karena aku sedang tak ingin bertemu dengan cowok bersepeda. Aku ingin pikiran-pikiran yang mengganggu ini pergi walaupun resikonya Mas Alif marah padaku.

“Ngapain sih Nad pake acara gantian tugas!!!”

“Nadia kan bosen Mas, kerjanya itu mulu,” jawabku.

“Iya sih Nad tapi masak cowok nyiram bunga? Yang bener aja!” Iya juga sih, masak Mas Alif disuruh siram bunga. Iiih lucu kali ya kalau cowok nyiram bunga.

“Nggak pa-pa Lif, kan nggak ada tuh peraturan yang menulis cowok tidak boleh menyiram bunga.” Kata bunda menengahi.

“Asyiiikkk… jadi mulai besok Nadia tugasnya sapu rumah aja ya Bunda?”

“Mmm boleh tambah satu Nad?” pinta Bunda.

“Apa Bun?”

“Nyuci piring ya…” jawab Bunda sambil tersenyum lebar. Aku hanya menelan ludah.

Yah begitulah, setelah kesepakatan terjadi antara Aku, Bunda dan Mas Alif, aku resmi bertugas menyapu rumah dan tentu saja pekerjaan yang agak menyebalkan yaitu mencuci piring, sedangkan Mas Alif menyapu halaman dan menyiram bunga.

Mulanya aku enjoy menjalani tugas baruku. Aku lebih tenang, karena tidak terusik oleh kedatangan cowok bersepeda. Tapi entah kenapa setelah seminggu ketenanganku mulai terusik. Pertama karena minta pergantian tugas ini justru sangat menguntungkan Mas Alif, dia jadi lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya kemudian pergi bermain bola. Sedangkan aku kini entah kenapa menjadi resah, entah karena tidak melihat si cowok bersepeda atau karena tidak menyirami bungaku lagi? Entahlah, yang jelas semenjak aku bertugas menyapu rumah aku tidak memperhatikan lagi siapa yang lalu lalang di depan rumah.

Sore ini aku tidak lagi konsentrasi menyelesaikan tugasku menyapu rumah. Hatiku tiba-tiba penasaran, masih lewatkah si cowok bersepeda itu? Saking penasarannya aku mulai mengintip lewat jendela ruang tamu. Kebetulan Mas Alif sedang menyiram bunga disitu.

“Hai Gas, mampir!” serunya.

Orang yang dipanggil hanya melambaikan tangan tanpa menjawab. Dan mataku terbelalak tatkala mendapati orang yang dipanggil Mas Alif adalah si cowok bersepeda.

Selesai menyiram bunga Mas Alif segera masuk ke rumah. Aku yang sudah ancang-ancang dari tadi langsung menguntitnya.

“Siapa yang Mas sapa tadi?”

“Hemm siapa?”

“Yang naik sepeda.”

“Oooohhh, kawan main bola.”

“Mas kenal?”

“Ya kenal lah rumahnya kan nggak jauh dari sini. Emang ngapain kamu Tanya-tanya?” ups, Mas Alif mulai mencurigaiku.

“Nggak ada kok nanya doang.” Jawabku agak gugup.

“Udah sana selesein tuh nyapu rumah, Mas mau pergi main bola.” Jawabnya sambil ngeloyor pergi.

Ah Mas Alif, dimintain info dikit aja pelit. Di balik punggungnnya kujulurkan lidahku sebagai reaksi atas kesebalanku terhadapnya. Dan berbalik melihat pekerjaanku, duh Bunda bisa marah nih kerjaanku belum selesai.

Cepat-cepat aku menyapu dan mencuci piring, karena aku punya satu misi baru, ke rumah Ririn! Iya aku akan ke rumah Ririn untuk mencari tahu siapa si cowok bersepeda itu sesungguhnya. Mas Alif rupanya kenal dengan cowok itu, tapi aku belum bertanya dimana sekolahnya, kelas berapa dia dan rumahnya sebenarnya yang sebelah mana sih?

“Bunda…Nadia ke rumah Ririn sebentar ya….” Pamitku dari depan pintu. Aku tak peduli Bunda menjawab apa, yang penting aku udah pamit. Soalnya ini adalah hal penting, sangat penting!

Aku berjalan pelan ketika sampai rumah Ririn. Dua minggu lalu Ririn pulang dari rumah pamannya dan memberiku oleh-oleh sebuah gelang manik-manik. Warnanya cantik dan menarik, sehingga aku selalu memakainya, bahkan teman-temanku menginginkan gelang seperti milikku tapi tentu saja mereka harus beli sendiri, ini kan oleh-oleh.

Oh ya, bercerita tentang Ririn sebenarnya membuatku agak sedih. Ririn adalah anak korban perceraian kedua orang tuanya. Ayah dan Bundanya tidak mau membawanya karena masing-masing telah menikah lagi dan memiliki anak. Akhirnya Ririn dititipkan di rumah Neneknya, yang kebetulan rumahnya bersebalahan dengan rumahku.

Nenek Ririn memang terkenal galak, Ririn juga sering dipukuli. Aku sedih melihatnya, tapi tak ada yang bisa kulakukan kecuali mengajak Ririn ke rumah hingga kemarahan Neneknya reda. Kadang kala aku juga membantu Ririn menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh Neneknya agar aku bisa mengajaknya pergi bermain.

Ririn sendiri menurutku, tidak sedih ataupun meratapi nasibnya. Dia masih tetap berlaku biasa di depanku dan teman-teman lain sekomplek. Ririn sebenarnya usianya terpaut denganku 3 tahun, tapi aku memanggilnya Ririn saja karena tubunya kecil, lebih kecil dariku. Dia juga jadi teman curhatku, dan belakangan dia mengakui bahwa dia suka sama Mas Alif, kakakku.

“Ririn….” Panggilku.

“Eh Nad, masuk Nad, aku lagi masak.” Ririn nampak tergopoh-gopoh dari dapur.

Sambil membantu Ririn memotong sayur, aku mencoba bertanya-tanya tentang si cowok bersepeda. Karena kupikir dia pasti tahu lebih banyak kawan-kawan Mas Alif dibanding aku.

“Rin kamu tahu kawan main bola Mas Alif.”

“Tahulah Nad, kan orang komplek sini juga mana mungkin aku tidak kenal.” Jawab Ririn sambil menumis bumbu.

Bau harum bumbu mulai menyengat sampai ke hidung, tapi tak berarti investigasiku berhenti sampai disini. “Kalau yang suka naik sepeda kamu tahu Rin?”

“Oh..yang suka bolak-balik lewat depan jalan sini?” Wew, Ririn kok tahu? Aku hanya menjawab dengan anggukan. “Namanya Bagas, rumahnya di komplek E no 5, memangnya kenapa dengan dia Nad?”

Aku tergagap ditanya begitu. “Nggg…nnnggg…gak papa kok Rin, aku penasaran aja kenapa dia sering lewat jalan sini.” Yah…keceplosan deh.

“Oh soal itu…memangnya kamu belum tahu Nad?”

“Tahu apa Rin?”

“Dia itu kan suka sama kamu.”

Deg. Jantungku serasa mau copot mendengar jawaban Ririn. Benarkah?

Bab III Pantaskah?

Akhir-akhir ini Ambar memang membuatku resah dengan analisisnya tentang cowok bersepeda yang kemungkinan besar naksir sama aku. Kini Ririn makin membuat perasaanku tak karuan dengan pernyataannya bahwa cowok bersepeda itu benar suka padaku.

Aku tidak percaya, bagaimana mungkin? Tapi Ririn mendengar itu dari gossip anak-anak yang nongkrong di pertigaan dekat rumah. Ririn banyak cerita mengenai cowok bersepeda itu. Cowok itu sudah kelas tiga sekolah menengah atas, satu tahun diatas Mas Alif, tapi berbeda sekolah. Cowok itu juga punya adek yang seumuran denganku tapi beda sekolah. Kalo adeknya aku kenal tapi kenapa aku nggak tahu ya kalau yang suka lewat depan rumah itu kakaknya.

“Kamu sudah tahu, terus apa yang mau kamu lakukan Nad?” Tanya Ririn setelah menceritakan banyak hal padaku sambil mengaduk sayurnya yang hampir masak.

“Entahlah Rin, biarkan waktu yang menjawab.” Kemudian hening.

Tak lama aku pamit pulang, hari sudah hampir maghrib. Bunda pasti mencariku.

“Kenapa sih anak Bunda kok melamun?” sapa bunda saat makan malam tiba.

“Ah..enggak kok, Nadia ngantuk aja Bun.” Jawabku berusaha menguasai diri.

“Ya sudah habis makan cepat tidur, jangan lupa besok pagi-pagi cepat bangun kerjain PR dan tugas sekolahnya ya.”

“Iya Bun.”

Mas Alif hanya melirikku tajam. Malam ini dia akan belajar sendiri, dan jenuh sendiri. Biasanya kalau kami belajar bersama Mas Alif akan menyuruhku untuk membujuk Ayah diperbolehkan menonton televisi dengan alasan PR dan tugasnya sudah selesai. Kadang Ayah mengijinkan, tapi seringnya tidak. Dan aku hanya akan terkikik-kikik sendiri melihat wajah manyun Mas Alif karena aku tidak berhasil membujuk Ayah.

Kadang Mas Alif memasukkan gamewatch ke dalam tasnya. Ketika Ayah lengah dia mulai memainkannya. Tapi biar begitu Mas Alif selalu juara, nilainya bagus terus.

“Nad…” Ibu membuyarkan lamunanku, “Kamu demam?” lanjut Bunda sambil memeriksa keningku. Iya ternyata aku demam. Aku tidak menyadarinya.

“Nggak tahu Bunda, badan Nadia rasanya gak enak, meriang.” Jawabku agak menggigil di balik selimut.

“Ke dokter ya Nad?” Duh pertanyaan retoris ingin rasanya menjawab tidak. Sangat tidak enak menelan pil-pil pahit dari dokter, tapi Ayah pasti marah jika aku menolak.

Dengan terpaksa aku bangun lagi dari ranjangku mengenakan sweater rajut berwarna coklat bikinan Bunda, turun ke lantai bawah dan duduk di ruang tamu. Sementara Bunda bersiap-siap juga sembari memberitahu Ayah tentang rencana membawaku berobat.

“Demam Nad?” sapa Ayah yang dengan cepat sudah berganti baju. Aku hanya mengangguk.

“Mas Alif mau ikut atau jaga rumah sendiri?” Tanya Bunda. Ah Bunda untuk apa Mas Alif ditanya. Dia pasti lebih memilih untuk tidak ikut. Bebas sementara tanpa pengawasan Ayah kan lumayan, kalau tidak main game dia bisa menonton TV.

“Gak usah Bund, Mas berani kok masak udah SMA gak berani di rumah sendiri.” Tuh kan…Mas Alif pasti memilih di rumah.

Mobil meluncur, dan saat itu pasti Mas Alif sedang merayakan kebebasannya dan aku sedang menjemput penderitaanku.

***
“Dengar kata dokter ya Nadia, obatnya harus dihabiskan. Kamu juga harus banyak istirahat.” Aku hanya merengut mendengar kata Bunda. Obat harus dihabiskan? Duh Bun, melihatnya saja Nadia sudah mau muntah.

“Nanti siang kalau Mas Alif belum pulang kamu bisa kan ambil nasi sendiri?” lanjut Bunda. Aku hanya mengangguk.

“Ya sudah Bunda berangkat kerja dulu ya, Nadia istirahat di rumah.” Kata Bunda sambil mengecup keningku.

Suasana hening setelah Bunda meninggalkan kamarku. Tak lama terdengar suara motor berderum dan itulah keheningan yang sebenarnya. Ayah sudah berangkat sejak jam enam tadi, kantor beliau agak jauh jadi harus pagi-pagi berangkat. Mas Alif jam setengah tujuh baru berangkat. Ah dia memang sedikit badung kadang terlambat masuk kelas tapi tetap saja kebadungannya tertutupi dengan kepandaiannya. Sedangkan Bunda yang biasa berangkat bersama Ayah jadi terlambat ke kantor karena harus mengurusku dulu.

Biasanya aku berangkat bersama Mas Alif jam enam lewat lima belas menit karena jam masuk sekolah kami jam tujuh pas. Sedangkan Bunda biasanya berangkat di jam yang sama dengan Ayah walaupun mereka menggunakan kendaraan masing-masing. Sebenarnya kantor Bunda tidak jauh tapi beliau adalah seorang Guru jadi harus masuk juga jam tujuh.

Kunci rumah kami pegang masing-masing tapi karena aku dan Mas Alif yang biasa berangkat belakangan maka tugasku mengunci rumah. Namun jika aku sakit biasanya pintu depan dan pagar hanya ditutup saja karena aku tidak akan tahan di kamar sendiri.

Kusibakkan selimutku. Satu persatu kuturuni tangga. Aku menuju ruang tengah dan kuhidupkan TV dengan suara sedang. Sengaja Bunda menempatkan karpet di ruang tengah ini untuk menonton TV dan bersantai jadi aku bisa menonton sambil tiduran. Tak lama bel berbunyi.
Aku segera ke ruang tamu, mengintip dari jendela siapa yang bertamu pagi ini. Ah rupanya Ririn.

“Ririn…masuk Rin.” Ririn segera masuk. Ririn ini hanya lulus Sekolah Dasar. Seharusnya jika dia sekolah dia sudah SMA juga seperti Mas Alif. Tapi Neneknya tidak punya biaya lagi untuk menyekolahkan Ririn dan sepertinya Ririnpun enggan untuk sekolah padahal nilai-nilainya cukup bagus.

“Darimana kamu tahu aku di rumah Rin?” tanyaku sambil mengajak Ririn ke ruang tengah untuk menonton TV.

“Aku lihat tadi Mas Alif berangkat sendiri, biasanya kalian kan berangkat bersama.”

“Iya Rin, aku sakit badanku meriang tapi sudah agak mendingan karena sudah minum obat.”

“Syukurlah Nad, oh iya aku bawain makanan kesukaanmu.” Kata Ririn sambil membuka kotak yang tadi dibawanya.

“Wah tahu isi, kamu tahu aja kesukaanku Rin.” Kataku sambil memakan tahu isi buatan Ririn, yah walaupun sebenarnya aku sedang tidak ada selera untuk makan ataupun ngemil tapi demi menghargai kerja keras Ririn aku memakannya.

“Kamu nggak sakit gara-gara aku kasih tahu masalah kemarin kan Nad?”

“Masalah apa Rin?” tanyaku sambil mengernyitkan dahi.

“Yang kamu tanyakan kemarin.” Jawab Ririn, aku mulai mengerti apa yang dimaksudkannya tapi aku pura-pura tidak tahu.

“Yang mana Rin?”

“Ah Nadia…” Ririn mencubit lenganku. “ Jangan pura-pura ah, kamu kan menanyakan cowok bersepeda itu kan?”

Aku melengos. “Owh…enggak kok aku cuma kecapekan saja mungkin karena bertukar tugas dengan Mas Alif.”

“Aku pikir kamu sakit gara-gara memikirkan apa yang ku katakan kemarin…” Ririn begitu baiknya dia hingga memikirkan aku sampai seperti itu.

“Enggak kok Rin, lagian itu kan hanya gosip, untuk apa harus kupikirkan.”

“Hehe iya juga ya Nad, tapi mungkin gosip itu ada benarnya juga lho Nad. Lagipula untuk apa Bagas main sepeda sampai bolak-balik hanya lewat depan rumahmu saja Nad?” kata Ririn persis seperti kata Ambar.

Lagi dan lagi aku harus berkata bagaimana mungkin seseorang yang suka pada seorang anak gadis tidak mengajaknya kenalan. Menyapa juga tidak. Jangankan menyapa bahkan tersenyumpun sama sekali tidak. Reaksi Bagas itu dingin tidak ada ekspresi.

“Masak kayak gitu masih dibilang juga naksir sama aku Rin?”

“Kamu kan nggak tahu Nad, Bagas itu orangnya pemalu. Mungkin dia malu kalau harus berkenalan denganmu duluan. Bagaimana kalau kamu duluan yang kenalan sama dia?”

“Hah?! Yang bener aja Rin…” aku melotot pada Ririn.

“Eh aku pulang dulu ya Nad nanti Nenekku marah kalau aku kelamaan pergi.” Sahut Ririn sambil pergi meninggalkan aku yang kesal sendiri.

Ah dasar Ririn sejak kapan dia punya ide gila seperti itu? Lagipula mana pantas aku seorang perempuan mendekati cowok duluan. Apalagi cowok itu sudah SMA dan sebentar lagi dalam hitungan bulan dia akan kuliah.

***

“Udah ah jangan ngomongin cowok bersepeda itu lagi.” Sergahku ketika Ambar hendak membicarakan cowok bersepeda itu lagi. Karena aku sudah tahu siapa dia. Cowok itu bernama Bagas kelas 3 SMA, dan dia tinggal di Blok E No 5. Adiknya sebaya denganku namanya Titin.

“Nah lo ada kemajuan tahu beberapa hal tentang dia, kenapa nggak lanjut?” Ambar mulai angkat bicara.

Lagi dan lagi aku harus menjelaskan pada Ambar dan pada yang lain, Dina, Rista, Diyah dan Fita, bahwa Bagas itu usianya terlalu jauh denganku, bayangkan hampir lima tahun selisih usia kami. Aku ini kan masih ABG, pacaran ya untuk nambah kemampuan bersosialisi saja kan bukan untuk mencari jodoh.

“Jadi tipe kamu yang seperti apa Nad?” selidik Dina.

Ugh sial Dina membalasku. Beberapa bulan lalu aku yang menanyakan pertanyaan itu padanya. Waktu itu Dina galau gara-gara ditembak Yoga, anak guru Geografi kami. Dan Dina dengan lancar menyebutkan tipe cowok idamannya dan semua ada di Yoga. Hitam manis, tinggi, kepintaran bukanlah hal mutlak untuk Dina. Selain itu Yoga juga cukup berkharisma, yang bikin Dina galau waktu itu bahwa Yoga ini adalah adik kelas kami. Bagi Dina agak memalukan pacaran dengan adik kelas.

Namun akhirnya kami berlima, aku, Diyah, Fita, Rista dan Ambar meyakinkan bahwa demi cinta gengsi harus dibuang. Walaupun adik kelas tapi tetap saja dari segi umur kami dan Yoga masih seumuran. Bukan karena tinggal kelas sih, kerana dia memang masuk sekolahnya lebih lambat.

“Eh kok malah bengong sih Nad?” Rista ikut menimpali. Ah kalau yang satu ini jangan ditanya dia kembangnya sekolah. Baru masuk saja sudah punya pacar dan sampai sekarang udah ada mungkin lima kali si Rista ini pacaran. Malahan pacaran sama teman sekelas sudah tiga kali.

“Mungkin Nadia ini belum pernah jatuh cinta kali.” Kata Diyah, aku Cuma menanggapinya dengan garukan kepala dan cengir kuda yang mungkin agak aneh kalau diperhatikan.

“Sebenarnya aku lebih suka cowok seumuran yang naksir aku, tapi harus pinter lho ya, terus…terus…apa ya? mmm… aktif berorganisasi kali ya biar gak kuper. Kayaknya itu aja deh”

“Aha aku tahu siapa dia…” tumben si Fita nyeletuk, biasanya dia paling anteng dan menjadi pendengar setia, kali ini nampaknya dia tidak mau tinggal diam.

“Siapa Fit?” Tanya Ambar penasaran.

“Andre…”

Entah kenapa kami berlima langsung melengos. Fita ini memang biasa memberikan konklusi yang nggak banget. Sekarang Andre dibawa-bawanya. Memang sih Andre pinter dia itu juara satu umum di sekolah. Dia juga siswa teladan tingkat provinsi. Tapi untuk pacaran dengan Andre, rasanya tidak.

Andre itu terlalu populer di sekolah, sama seperti Rista. Namun mereka berdua nampaknya tidak memiliki kecocokan jadi dua populer di sekolah ini belum dan tidak pernah pacaran. Sedangkan dimataku Andre tak lebih dari seorang kutu buku, yah walaupun dia juga ikut organisasi tapi dia tidak pandai berdiplomasi.

“Ha?!” kami kompak terkejut.

“Maksudku itu…Andre…” kata Fita sambil senyum-senyum menunjuk pada sosok di belakang kami. Sial kami kena tipu kirain dia menunjuk Andre sebagai cowok tipeku rupanya hanya menyapa saja.

“Maaf mengganggu ya….” Andre buka suara, rupanya dia menyadari keterkejutan kami dan kami yang tidak menyadari bahwa dia ada di belakang kami. Jelas saja Fita melihat dia kan duduk dihadapan kami.

“Nggak ko Ndre ada perlu apa?” sahut Fita genit. Kayaknya Fita yang tertarik dengan Andre.

“Aku mau ngomong sama Nadia, bisa minta waktunya bentar Nad?” ditanya begitu aku hanya mengangguk. Jujur saja aku agak deg-degan. Memangnya Andre mau bicara apa ya?

Kulihat Fita menangis sesenggukan ditemani Ambar dan Diyah siang itu sepulang sekolah dan selepas aku berbicara dengan Andre.
“Dia pasti nembak Nadia…” masih kudengar kata itu diantara isak tangis Fita. “Mereka kan sama-sama pinter, sama-sama keren…” Duh Fita Fita kamu kok naïf sekali.

“Kenapa Fit?” tanyaku tiba-tiba tanpa permisi.

“Nadia jahat…” tangis Fita makin meledak. “Kamu merebut Andre dariku….”

“Ha? Merebut Andre dari siapa?” tanyaku pura-pura tidak mendengar.

Fita malah balik badan, masih sambil sesenggukan. Sedangkan Ambar dan Diyah meloto padaku karena aku membikin Fita makin sedih.

“Udah dong Fit hapus air matamu, ngapain nagis-nangis kayak gitu?”

Fita malah makin menjadi-jadi. Namun kemudian dia diam.

“Kamu ngomong apa aja tadi sama Andre? “ Tanya Fita setelah tangisnya agak mereda

“Nggak ada, orang kami ngumpul anggota pramuka yang akan ikut Jambore Cabang, makanya kami ngumpul untuk membicarakan jadwal yang pas dengan latihan kami agar tidak bentrook dengan kegiatan les.”

“Jambore tuh apaan Nad?” Tanya Diyah tak mengerti.

“Jambore itu pertemuan antar pramuka penggalang. Yah kemah gitu. Nah Jambore itu ada beberapa jenis di Indonesia ada Jambore Ranting di tingkat kecamatan, jambore Cabang tingkat Kabupaten, Jambore Daerah tingkat Provinsi dan Jambore Nasional tingkat nasional. Eh iya jambore ini ada juga lho yang tingkat dunia.”

Ambar, Diyah dan Fita manggut-manggut.

“Ya udah masalah udah clear yuk kita pulang nanti keburu sore lho.” Kataku mengingatkan.

“Ngomong-ngomong kenapa kalian Cuma bertiga? Dimana Dina dan Rista?”

“Duh Nad kayak nggak tahu aja, si Dina harus pulang on time kalau gak mau kena marah sama ortunya, sedangkan Rista tadi dijemput ibunya, gagak deh dia ketemuan sama Anto hihihi.” Jawab Ambar.

“Ya udah deh kami duluan ya Nad, hati-hati lho sendirian.” Kata Diyah yang sudah duluan naik bis bersama Fita dan Ambar. Aku hanya melambaikan tangan pada mereka bertiga.

Menunggu memang menjemukan, tapi sepertinya hal itu tidak berlaku bagi beberapa orang yang duduk di dekatku. Mereka asyik sekali ngerumpi. Yah kalau ada teman mungkin tidak akan semenjemukan begini.

Kulirik gadis-gadis cantik itu. Owh rupanya mereka anak SMA tempat Mas Bagas sekolah. Kalau sekolah tempat Mas Bagas ceweknya cantik-cantik begini mana mungkin dia tertarik padaku. Bayanganku di cermin saja sudah pendek, yah walaupun gendut aku tidak overweight, rambutku berombak tapi tidak keriting. Kalau kulitku sih memang tidak seputih kakak-kakak SMA ini tapi lumayan juga lah tidak hitam dan masih lebih putih dibanding Ambar dan Diyah.

Lamunanku buyar ketika bis tujuan komplek rumahku tiba. Kunaikkan kakiku ke dalam bis, tapi karena bisnya terlalu penuh jadi aku kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh. Untuk ada seseorang yang memegang tanganku hingga aku kembali dalam keseimbangan tubuhku.

“Terima kasih.” Kataku, kenek langsung menyuruhku untuk merapikan barisan dalam bus. Ugh penuh sekali, padahal pulang agak terlambat. Untung tidak jatuh. Ah memang lagi sial biasanya bus tidak sepenuh ini.

Setelah kuperhatikan rupanya bus ini penuh sesak dengan anak SMA. Aduh bodoh sekali aku ini. Ini kan jam mereka pulang. Pantas penuh.

Tak lama kernet bus datang di dekatku. Akupun mulai merogoh saku rok seragamku untuk memberikan ongkos, tapi…

“Sudah dibayar sama yang berdiri di dekat pintu.” Katanya sambil menunjuk laki-laki yang tadi menolongku. Aku menengok tapi aku tidak melihat wajahnya. Dia menghadap ke arah yang lain. Tadipun waktu mengucapkan terima kasih aku juga tidak sempat melihat wajahnya karena kernet menyruhku untuk segera masuk dan merapikan barisan di dalam bus yang sesak ini.

Tak terasa tujuanku telah tiba. Aku sengaja memilih lewat pintu belakan agar bisa melihat wajahnya dan mengucapkan terima kasih.

Namun sebelum aku berkata-kata aku sudah mati kutu duluan. Orang yang membayarkan onkos busku tadi turun satu tujuan denganku dan dia..dia…dia adalah BAGAS!!!

***

“Terima kasih…. Terima kasih banyak sudah menolong tadi dan sudah membayarkan ongkos bus saya.” Kataku mengawali percakapan. Entah kenapa kami jadi berjalan bersama melewati komplek.

“Eh…iya… sama-sama. Kamu Nadia kan? Yang rumahnya di dekat pertigaan depan itu?” tanyanya.

“Iya.”

“Kenalkan aku Bagas, rumahku di komplek ini juga tapi beda blok.”

“Owh…iya…” Aku sudah tahu, kataku dalam hati.

“Mmm, nggak mampir dulu?” kataku ketika kami tiba di depan rumahku.

“Nantilah kapan-kapan aku main, sekarang aku langsung pulang ya…” jawabnya sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang tak mungkin kulupakan sepanjang hidupku.

Begitu Mas Bagas pergi aku langsung buka pintu rumah lari ke kamar dan merebahkan diri di kasur sambil membayangkan pertemuan sekaligus perkenalan tadi. Ah kenapa Bagas hadir lagi? Bukankah kemarin aku sudah berjanji untuk melupakannya. Lagipula tentang dia menyukaiku itu paling hanya gosip semata tidak mungkin dia tidak tertarik pada teman-teman sekolahnya yang cantik-cantik itu.

Arghhhhhh kulempar guling kea rah meja belajarku dan braaakkkk….mengenai celengan yang ada dia atas lemari. Aku hanya melongo, Bunda pasti marah kalau tahu celengan itu pecah sebelum waktunya dan Bunda tidak akan menerima alasan apapun atas pecahnya celengan tersebut. Duh mampus aku.

Tak lama pintu kamarku terbuka. Bunda berdiri disitu.

“Apa-apaan ini Nad?”

***
Bab IV Jatuh Cinta

Aduh gara-gara mecahin celengan sebelum waktunya aku kena hukum sama Bunda. Hukuman pertama aku harus membeli celengan baru dengan uangku sendiri. Hukuman kedua aku tidak boleh keluar main selama seminggu. Fiuh tidak boleh pergi main artinya aku tidak boleh ke rumah Ririn atau ke rumah kawan-kawan sekelasku.

Hukuman yang sama juga pernah dijatuhkan kepada Mas Alif. Waktu itu dia tidak bisa main bola selama seminggu dan hanya menonton TV di sore hari sebelum jam belajar. Bedanya waktu itu Mas Alif memang sengaja memecahkan celengannya untuk membeli headset baru, sedangkan aku sebenarnya tidak sengaja memecahkan celengan tersebut gara-gara melempar guling. Tapi Bunda tidak mau mendengarkan.

“Hukuman harus ditegakkan Nad, tidak boleh tebang pilih.” Kata Bunda sewaktu aku merajuk minta hukumanku diperingan.

Dari sejak kami SD kelas 3 Bunda mulai mengajarkan kami untuk menabung. Kami dibelikan celengan dari keramik yang dapat dipecahkan. Peraturannya dalam jangka waktu setahun celengan tersebut tidak boleh dipecahkan. Biasanya kami memiliki momentum memecahkan celengan saat kenaikan kelas. Bunda sengaja membelikan celengan keramik, karena jika celengan plastik masih bisa diakali untuk diambil isinya.

Saat-saat memecahkan celengan adalah saat yang mendebarkan sekaligus membahagiakan. Mendebarkan karena kami tak pernah tahu pasti berapa isi di dalam celengan. Bahagia karena kami boleh membelanjakan tabungan tersebut untuk barang yang kami inginkan.

Celengan tersebut kami isi dengan menggunakan sisa uang jajan yang diberikan Bunda tiap harinya. Kadanga aku juga tidak sempat menghitung dan langsung memasukkannya ke dalam celengan. Dulu aku dan Mas Alif selalu bersaing untuk mendapatkan hasil celengan yang paling banyak. Kini tinggak aku yang masih rajin menabung dalam celengan karena Mas Alif mulai menggunakan jasa perbankan untuk menabung.

Aku masih ingat pertama kali uang celengan kugunakan untuk membeli boneka panda super besar. Waktu itu aku merengek-rengek pada Bunda untuk membelikanku sebuah boneka. Tapi Bunda tidak mengabulkan hingga akhirnya beliau berkata bahwa jika aku menabung sepanjang tahun hingga kelas 4 mungkin aku bisa membeli boneka tersebut.

Kata-kata Bunda membangkitkan semangatku, aku mulai mengirit uang jajan. Tiap kali istirahat aku jarang jajan paling hanya membeli minum tatkala haus. Dan benar saja aku mendapatkan banyak uang tabungan. Tapi tanpa kutahu rupanya uang tabunganku tersebut masih belum cukup untuk membeli boneka panda super besar itu dan Bunda yang menomboki. Kini si Big Panda, aku menamainya selalu menemaniku tidur dan selalu duduk manis di atas ranjang menungguku pulang sekolah.

“Kalau latiha pramuka masih boleh kan Bun? Soalnya mulai minggu depan ada jadwal latihan baru Bun menjelang jamboree cabang. Mungkin kami berlatih seminggu dua kali, lagipula banyak persiapan yang kami perlukan Bun.” Kataku teringat bahwa tadi siang kami sudah sepakat untuk berlatih ekstra dalam rangka menyongsong jamboree cabang yang akan dilaksanakan bulan depan.

“Kalau latihan pramuka boleh, tapi kalau pergi main tidak boleh ya… kalau sampai kamu ketahuan pergi main diam-diam Bunda akan tambah hukumannya seminggu lagi OK?!”

“OK Bun.” Sahutku sambil mengacungkan jempol.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit. Aku harus segera mandi dan melakukan tugasku. Oh ya semenjak aku sakit hingga kini aku bertukar tugas lagi dengan Mas Alif. Sekarang aku menyapu halaman, menyiram bunga dan mencuci piring, sedangkan Mas Alif beres-beres rumah. Tapi sampai sesore ini dia belum pulang juga.

“Mas Alif kemana Bun?” tanyaku setelah selesai mandi.

“Dia ikut bimbingan belajar Nad, entah kok baru sekarang ikutan bimbel, dulu disuruh ikut nggak mau sekarang malah maksa.” Pasti ada sesuatu yang tidak beres nih dengan Mas Alif. Jangan… jangan… dia lagi ngincer cewek hihihi.

Segera kuambil sapu kusapu halaman rumah yang tidak begitu luas.

“Nad…” sebuah suara yang kukenal mengejutkanku.

“Eh..Mas Bagas!!” sahutku senang.

“Mana Alif? Kok dia belum datang main bola?” iiih kok yang ditanya Mas Alif sih? Bukan aku?

“Owh anu…emmm Mas Alif lagi les.”

“Owh…ya udah deh, aku balik ke lapangan ya Nad, udah pada nyariin tuh.”

“Emmm Mas gak ikut main?” selidikku.

“Owh…enggak…Mas nggak pandai Nad hehehe, pergi dulu ya…” katanya.

Padahal dia nanyain Mas Alif eh kenapa mukaku jadi mengahangat ya? Senyumkupun mengembang terus. Dan rasanya hatiku ingin bernyanyi…

Ah…sadar Nad…sadar… dia itu udah gede, gak level sama Nadia yang ABG. Lagipula untuk apa ge-er orang dia nanya Mas Alif, dan gitu tahu mas Alif nggak ada eh dia langsung pergi….

Cepat kuselesaikan menyapu halaman dan menyiram bunga. Jangan sampai Bagas meracuniku.

***

Kami Pramuka Indonesia
Manusia Pancasila
Satyaku kudharmakan
Dharmaku kubaktikan
Agar Jaya Indonesia
Indonesia
Tanah Airku
Kami jadi pandumu..

Lagu hymne pramuka dinyanyikan oleh peserta upacara pembukaan latihan pada Jum’at ini, meskipun tidak semua dari kami yang akan melatih adik-adik karena ada dua regu, satu regu putra dan satu regu putri yang akan berlatih dalam rangka menyongsong Jambore Cabang tahun ini.

Di regu putri yang kami beri nama Melati terdiri dari aku, Kak Agni, Aliya dan Husna. Karena satu regu harus terdiri dari 6-8 orang maka aku mengusulkan Ambar untuk diikutkan dalam regu Melati. Pertimbanganku Ambar memiliki fisik yang kuat. Sedangkan satu orang lagi adalah Kak Rani, teman sekelas Kak Agni. Kadang aku kurang yakin dengan penampilan fisiknya yang lemah gemulai dan anggun itu.

Sedangkan di regu pria ada Andre, Kak Martin, Age, Andi, Anto, Anton, Kak Eksel dan Doni. Mereka adalah regu putra yang tangguh sehingga pantas untuk dinamai regu Harimau.

Dan sore ini kakak Pembina kami sekaligus guru Matematika kami Pak Sodikh dan Bu Wiwid, akan memperkenalkan asisten barunya. Asisten barunya kali ini akan membantu kami berlatih dan mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan erat dengan Jambore Cabang yang akan kami ikuti ini. Aku belum tahu siapa dan yang mana orangnya, tapi kata Kak Agni, ketua regu kami asisten Pak Sodikh ini adalah Pramuka Penegak di SMA yang dekat dengan SMP kami.

Kak Martin memberi aba-aba kepada kami untuk segera berbaris. Di hadapan kami telah ada Kakak tau Pak Sodikh dan Kaka tau Bu Wiwid dan satu seorang kakak pramuka wanita yang cantik.

“Baiklah adik-adik seperti yang telah kak Wiwid utarakan kemarin, kami sengaja meminta bantuan kepada kakak-kakak pramuka penegak di dekat sekolah kita ini untuk membantu adik-adik sekalian berlatih dan mempersiapkan diri menghadapi Jambore Cabang tahun ini. Untuk sementara ini yang telah hadir baru Pembina untuk regu putri, sedangkan untuk regu putranya sedang ada keperluan di kamar mandi.” Kata Kak Sodikh diiringi tawa kecil dari kami.

“Untuk itu kami perkenalkan dulu Pembina baru kita yaitu Kak Mia yang akan membantu regu putri, dan Kak…” saat itu terdengar bunyi langkah kaki berlari.

“Itu dia Pembina regu putra, Kak Bagas….” Lanjut Kak Wiwid.

Aku dan Ambar saling menoleh, antara percaya dan tidak percaya. Owh kenapa dunia begitu sempiiitttt.
***
“Gagal dong Nad acara melupakan cowok bersepeda?” komentar Rista pagi itu sebelum pelajaran dimulai. Ambar dengan heboh menceritakannya pada teman-teman yang lain.

“Udah sejak dua hari yang lalu kali gagal.” Sahutku sengit.

“Ha? Dua hari yang lalu? Cerita dong Nad?” tagih Ambar antusias tapi sayang bel tanda belajar berbunyi.

Baru saja aku mendeklarasikan bahwa aku akan melupakan cowok bersepeda alias Bagas dan mencoba mencari kawan pria yang menurutku sepadan denganku. Bukan yang terlalu tua ataupun adik kelas. Dan lagi syarat mutlaknya adalah dia harus pintar. Kupikir tadinya Andre bisa menjadi teman dekatku, tapi rupanya Fita yang naksir, nggak mungkin kan makan teman sendiri. Dan sialnya aku malah berkenalan dengan cowok bersepeda itu, dan kemarin dia sudah resmi menjadi pelatih kami dalam persiapan Jambore Cabang nanti.

Ah kenapa aku harus selalu bertemu dia? Dan kenapa pula aku kecewa ketika kemarin kami tidak jadi minum jus di kedai depan sekolah?

“Nad sebelum pulang minum jus dulu yuk…” ajaknya kemarin sore.

Sebenarnya aku hampir mengatakan iya, tapi…”Emmm maaf Mas, kayaknya aku nggak bisa, aku harus segera pulang. Aku duluan yah…” kataku. Dan setelah itu hatiku sedih, sedih sekali karena aku ingin mengobrol dengannya. Ini semua gara-gara hukuman Bunda, semua jadi kacau.

“Nad..Nad…” sebuah suara membuyarkan lamunanku. Ups suara Bu Siska.

“Melamun apa Nad?”

“Ennnggg….enggak ada Bu.”

“Kok kamu diam saja ibu tanya.” Duh sial banget sih aku akhir-akhir ini. Udah kena hukuman Bunda eh kena omel sama Bu Siska, Guru Biologi.

“Maaf Bu..” jawabku agak gugup.

Dan kali ini aku mendapat hukuman dari Bu Siska untuk membuat siklus hidup katak dengan media karton.

“Yang bagus ya Nad, besok mau Ibu pasang di kelas ini.” Kata Bu Siska kemudian. Aku hanya tepok jidat. Duh aku kan nggak pintar menggambar. Ah ibu ini ada-ada saja.

“Makanya Nad jangan ketularan Ambar, ini sebangkuan malah nggak beres, yang satu tukang ribut yang satu lagi tukang ngelamun hehehehe.” Ledek Dina setelah Bu Siska pergi. Pelajaran buatku untuk tidak melamun pada saat pelajaran dan tidak boleh mengingat-ingat cowok bersepeda alias Bagas itu lagi. Kalau tidak aku bisa kena hukuman lagi di jam pelajaran berikutnya.

***
“Duh gimana dong aku nggak kan gak bisa menggambar.” Keluhku saat kami berempat, aku, Ambar, Diyah dan Fita ke kantin di jam istirahat. Sedangkan Dina dan Rista mereka di dalam kelas saja katanya malas istirahat pertama ke kantin. Nanggung nggak bisa nongkrong.

“Minta tolong aja sama Rista, tangan-tangan halusnya biasa menggoreskan pena-pena untuk mendesain baju impiannya.” Sahut Diyah spontan. Iya juga ya, Rista itu kan hobi menggambar. Dia suka sekali membuat desain-desain baju.

Tiba-tiba aku tersenyum geli,membayangakan Rista yang biasa menggambar baju-baju cantik tiba-tiba kusuruh menggambar katak.

“Hahahahahaha.”

“Kenapa ni anak, gak kesurupan kan?” kata Ambar.

“Sori-sori…aku lagi ngebayangin Rista yang alih profesi dari menggambar baju cantik menjadi gambar katak.” Jawabku, kemudian kumakan donat yang sedari tadi kupegang sambil berjalan menuju kelas karena bel telah berbunyi.

“Haha dasar Nadia, kebanyakan berimajinasi.” Sahut Fita.

***
Sial aku lupa meminta tolong pada Rista untuk membuatkan siklus hidup katak seperti yang diperintahkan Bu Siska padaku. Tidak mungkin sekarang aku ke rumahnya. Rumahku dan rumah Rista sangat jauh beda kecamatan dan jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.

Jadi tidak konsentrasi belajar nih. Kulirik Mas Alif yang duduk di depanku. Agar Ayah bisa mengawasi kami belajar setelah makan malam usai maka meja makan ini akan berubah menjadi meja belajar kami. Dari jam 7 hingga jam 9 malam kami kena wajib belajar. Setelah itu bebas mau noton TV atau mau masuk kamar. Meja belajar yang di kamar kami memiliki fungsi sebagai penyimpan buku. Kadang aku menggunakannya untuk menulis buku harian hehehe.

Kembali kulirik Mas Alif. Nampaknya dia sedang mengerjakan sesuatu. Penasaran akupun mendekatinya.

“Waaahhh…hebat ya Mas Alif, gambar pemandangannya cantik sekali.” Kataku tulus. Rupanya Mas Alif sedang menggambar sebuah pemandangan alam perdesaan yang sangat cantik. Gunung menjadi latar belakangnya kemudian terdapat sawah-sawah dan beberapa petani yang sedang bekerja. Mas Alif juga menggambar seorang anak yang duduk di atas kerbaunya yang berada di tengah sawah yang telah selesai dipanen.

“Hehehe iya doong Alif…”
“Wah Nadia bisa nih minta tolong sama mas Alif.”

“Minta tolong apaan.”

Kemudian kujelaskan maksud dan tujuanku meminta tolong pada Mas Alif. Yah apalagi kalau bukan hukuman di kelas Bu Siska tadi pagi, mana besok pagi harus dikumpulkan.

“Oke deh, mana bukumu biar mas gambarkan.” Segera kuambil buku Biologi di dalam tasku dan selembar karton yang memang masih tersedia di meja belajarku di kamar. Akhirnya setelah semua ada kuberikan pada Mas Alif.

“Nih Mas ini siklus hidup kataknya dan ini kertas kartonnya.”

Aku segera duduk di sebelah Mas Alif dan Mas Alifpun mulai menggambar. Kuperhatikan Mas Alif mulai menggambar telur-telur katak. Sekali bertelur katak bisa menghasilkan 5000 hingga 20.000 telur. Wow gumamku dalam hati. Telur-telur ini akan menetas menjadi kecebong atau berudu. Kecebong ini bernafas dengan insang dan hidup di dalam air bentuknya mirip dengan anak ikan. Aku sendiri saja kadang tidak tahu beda kecebong dengan anak ikan.

Kemudian Mas Alif menggambar katak muda. Katak muda ini adalah perubahan dari kecebong yang bernapas dengan insang mulai tumbuh kaki depan dan kaki belakang. Sistem pernapasannya juga mengalami perubahan dari insang menjadi paru-paru. Namun katak muda masih menyisakan sedikit ekornya. Setelah itu katak muda ini akan menjadi katak dewasa yang sudah tidak memiliki ekor lagi dan siap untuk bereproduksi.

Jam Sembilan tepat Mas Alif telah selesai menggambar siklus hidup katak untukku. Lega rasanya.

“Makasih ya Mas.” Mas Alif hanya nyengir. Sepertinya ada udang di balik batu, tapi biarlah toh dia tidak meminta imbalan apa-apa padaku. Segera kukemasi buku-bukuku. Naik ke kamar dan bermimpi indah karena gambar yang dibuat Mas Alif sangat cantik dan menarik seperti di buku. Apalagi diberinya warna-warni pada gambar siklus hidrup katak tersebut membuatnya semakin cantik.

***
“Hebat kamu Nad, gambar kamu bagus.” Puji Bu Siska pagi itu ketika aku menyerahkan tugasku ke kantor guru. Aku cuma tersenyum, apalagi yang berhak mendapatkan pujian itu sebenarnya Mas Alif.

“Kamu bisa bikin siklus hidup yang lain Nad? Seperti kupu-kupu misalnya…untuk bahan ajar Ibu.” Aku Cuma melongo. Siklus hidup katak yang sederhana saja aku susah apalagi kupu-kupu yang siklus hidupnya lebih lengkap.

“Tenang saja Nad, Ibu sudah siapkan imbalan untuk kamu.”

Aduh …gimana ini?
“Besok bisa kan Nad?”

“Err..bisa Bu.” Jawabku kemudian. Aku nggak mau ketahuan bahwa gambar katak itu bukan bikinanku. Lagipula Bu Siska kan sudah menyiapkan imbalan untukku.

“Makasih ya Nad, ya sudah cepat masuk kelas bel sebentar lagi berbunyi.”

“I..iya Bu..saya permisi.”

Mau tak mau aku harus mengandalkan Mas Alif lagi. Biarlah imbalan dari Bu Siska untuk dia. Gara-gara hukuman aku malah jadi tambah celaka.

“Aish…pagi-pagi dah manyun.” Ambar langsung menyambutku.

“Duh Mbar gawat ini Mbar gawat…”

“Hah?! Kenapa?” Lalu kuceritakan semua kejadian yang baru saja kualami. Gara-gara gambar Mas Alif yang cantik aku jadi disuruh membuat siklus hidup lagi.

Ambar tertawa tapi belum sempat dia tertawa Pak Guru sudah masuk kelas

***
“Mas, Nadia boleh minta tolong lagi kan?” kataku sore itu sebelum menyapu halaman rumah.

“Apaan?”

“Gambarin lagi dong tapi siklus hidup kupu-kupu ya.” Mas Alif Cuma melongo. “Ada imbalannya kok dari Bu Siska, Guru Biologiku.” Lanjutku.

“Emmm Oke deh, tapi yang kemarin aja belum dikasih imbalan.”

“Hah?” giliran aku yang bengong, duh minta imbalan apa Mas Alif kali ini.

“Besok kamu latihan pramuka kan?” aku mengangguk, “nah Mas titip sesuatu untuk Mia.” Aku kembali bengong.

Jadi alasan Mas Alif akhirnya mau ikut les itu adalah Kak Mia, yang sekarang sedang menjadi pelatih pramuka kami?

Kak Mia memang tergolong gadis yang manis dan cantik. Matanya bulat, hidungnya mancung bibirnya mirip dengan tante Titi DJ penyanyi itu. Kulitnya juga tergolong putih, nampaknya dia juga tergolong orang yang ramah. Jauh dari sosok Ririn. Yah meskipun Ririn juga manis tapi dia kurang terawat. Di kulitnya banyak bekas terciprat minyak goreng. Ririn juga berhidung mancung dan bermata bulat tapi bibirnya tidak seksi. Dia juga tidak tinggi semampai seperti Kak Ririn, badannya saja lebih kecil dan lebih pendek dari aku.

“Heh Nad, kok malah bengong?Bisa kan?”

“Emmm emang Mas naksir sama Kak Mia?”

“Iiiih anak kecil mau tahu aja. Mau kan Mas titipin? Nanti Mas bikinkan siklus kupu-kupu yang cantik deh.” Janji Mas Alif.

Duh Rin maafkan aku ya

“Iya deh.”

Fiuh per-deal-an yang sungguh tak mengenakkan. Di satu sisi aku memang membutuhkan bantuan Mas Alif. Tapi permintaan Mas Alif sungguh membuatku menjadi teman yang paling jahat di dunia. Bayangkan saja kamu tahu sahabatmu menyukai kakakmu tapi kamu malah membantunya jadian dengan orang lain. Ah moga-moga saja Kak Mia tidak suka sama Mas Alif.

“Nad…” sebuah suara membuyarkan lamunanku.

***
Inikah rasanya jatuh cinta? Kamu merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuatmu bahagia, sesuatu yang membuatmu tak ingin jauh dari sisinya. Dan segala hal yang kau ingat tentangnya akan menghasilkan suatu senyuman.

Ah…

Kubalikkan tubuhku ke kanan dan ke kiri. Namun tak ada hasil. Aku tetap tak bisa tidur. Mataku terpejam tapi pikiranku kemana-mana. Teringat kejadian Jum’at sore tadi. Tepat hukuman di hari ke-empat tersisa tiga hari lagi. Tapi meski begitu aku tetep bahagia dan senang.

Hari ini aku pergi latihan pramuka bersama Bagas. Ya dia yang memintaku kemarin sore, saat aku menyapu dan setelah mengobrol dengan Mas Alif.

“Besok pergi latihan pramukanya bareng aja Nad, biar Mas jemput ya…” kata Bagas, membuatku serasa terbang ke langit ke tujuh.

“Eeerrrr…iya Mas, jam empat udah kesini ya, takutnya telat.”

“Sip..” katanya dan kemudian melesat pergi bersama sepedanya.

Siapa yang sangka sih Bagas akan mengajakku pergi bersama. Yah walaupun hanya pergi latihan pramuka dan bukannya pergi ngedate. Sedihnya aku terpaksa menolak ajakannya yang kedua kali untuk minum jus sore itu. Dan dia jadi mendapatkan kesan berbeda tentangku.

“Minum jus yuk Nad.” Ajaknya ketika kami pulang latihan

“Aduh Mas, maaf ya Nadia harus segera pulang.”
“Ohh ya sudah kalau begitu kita pulang saja yuk.” Lanjutnya kemudian, “kamu nggak suka jus ya Nad?”

Auw masak iya aku harus mengakui bahwa aku sedang dalam masa hukuman?

“Iya Mas.” Jawabku kemudian. Padahal sebenanrnya sih aku suka sekali minum jus depan sekolah apalagi jus alpukadnya hmmm yummy sekali di mulut. Jika aku tidak sedang dalam masa hukuman ini mungkin aku akan lebih bahagia.

Di sepanjang jalan kami banyak mengobrol, mulai dari acara kesukaan sampai hobi masing-masing. Semuanya seru, kadang kami juga mengomentari sesuatu yang lucu yang kami lihat di sepanjang jalan, baik itu saat berada di dalam bus maupun saat kami berjalan bersama. Dan kebahagiaan itu membuatku lupa menyampaikan titipan Mas Alif berupa surat. Kalau dilihat dari sampulnya yang cantik sepertinya itu surat cinta. Hihihi siap-siap kena amuk aku besok.

Tapi imbalan dari Bu Siska sudah kuberikan. Bu Siska puas sekali dengan gambar siklus hidup Kupu-Kupu yang dibuat Mas Alif atas namaku. Bu Siska memberikan sebuah bungkusan yang tertutup rapat dengan kertas kado warna-warni. Aku sendiri tidak tahu apa isinya tapi yang jelas kado sebagai imbalan itu sudah kuberikan kepada Mas Alif.

***
“Nad..Nad kamu nggak sekolah?” suara Bunda membangunkaku dengan agak memaksa. Kulihat Bunda sudah cantik dan sudah memakai seragam kantornya.

“Hah?! Jam berapa ini Bun?” Aku langsung melonjak dari tempat tidur. Kutengok jam pukul enam tepat.

“Cepat mandi dan jangan lupa sarapan!” pesan Bunda sebelum berangkat kerja ketika aku berlari ke kamar mandi.

Kulihat Mas Alif sudah meninggalkan meja makan dan hendak berangkat. Alamat telat aku. Pakai acara sakit perut sih jadi kelamaan mandi deh.

Tanpa sarapan aku langsung berangkat ke sekolah. Kalau sudah kesiangan gini bisa-bisa aku dapat bus yang super duper penuh.

Kulihat halte ramai. Nampak ada Bagas disitu. Tapi aku urung menyapa karena ada seseorang disitu dan dia adalah…Mia!

Nampak Mia memegang tangan Bagas, dan mereka tertawa lepas sambil bercanda. Tawa Bagas lepas sekali berbeda ketika dia berbicara denganku kemarin. Ah aku tertipu, kupikir Bagas memang benar-benar menyukaiku ternyata dia malah pegangan tangan sama Mia.

Kuremas surat titipan Mas Alif kemarin sore yang ada dalam saku seragam sekolahku. Aku tak mau Mas Alif kecewa melihat kenyataan ini. Ah kenapa Mas Alif tidak suka sama Ririn saja sih. Kalau sama Ririn kan urusannya jadi lebih gampang.
***
“Nad, kok kamu nggak sampein suratku ke Mia?”

“Untuk apa Mas, dia udah pacaran sama Bagas.”

“Hah?! Sama Bagas. Nggak mungkin Nad! Itu surat balasan surat cinta untuk Mia.”

Kami sama-sama bengong.

“Suratnya sudah kuremas-remas Nadia pikir Mas Alif suka sama Kak Mia, makanya waktu Nadia lihat Kak Mia dan Mas Bagas gandengan tangan langsung Mia remas surat itu.” Jawabku sambil menyerakhan surat yang sudah lecek itu kepada Mas Alif.

“Hehehe dasar kamu Nad, sok tau ah jadi gini deh…”

“Yah habis Mas sih nggak ngomong.” Balasku sengit tak mau dipersalahkan.

Kemudian Mas Alif cerita bahwa gadis yang dia sukai bukanlah Mia. Dulu dia dan Mia adalah kawan satu SMP. Mia juga sudah banyak curhat tentang dirinya pada Mas Alif tapi sayang Mas Alif tidak meyukainya. Mas Alif lebih suka kalau mereka berteman saja.

“Jadi siapa yang Mas Alif sukai?”

“Eh…Kasih tahu nggak ya…?

“Ririn?” jawabku keceplosan.

“Hah?! Ririn? Ririn itu udah kayak kamu Nad, udah jadi adik bagi Mas Alif.” Jawabnya tegas.

Yah setidaknya jawaban ini harus kuberikan pada Ririn agar dia tidak terlalu banyak berharap. Dan yang kulihat tadi pagi, aku belum menemukan jawabannya. Mia menyukai Mas Alif tapi dia begitu akrab dengan Bagas.

Kupandangi gantungan kunci yang dibelikan Bagas waktu kami pulang bersama hari Jum’at kemarin. Untuk apa ya dia memberiku ini, mengajakku pergi dan pulang bersama, mengajakku minum jus tapi dia malah akrab sengan gadis lain.

PHP

Kutulis besar-besar di buku tulisku

“Appan tuh Nad?” eh rupanya Mas Alif memperhatikanku

“Pemberi Harapan Palsu.”

“Siapa?”
“Ada deh…” kataku sambil pergi. Malam ini adalah malam minggu aku tidak ada kewajiban belajar jadi aku mau tidur saja. Mau nonton TV malas acara malam minggu malah kurang menarik bagiku. Sebaiknya aku tidur dan besok pagi bisa bangun pagi-pagi supaya bisa jogging.

***
“Aduh!!” teriakku spontan ketika sebuah boneka mengenai aku. Tidak sakit sih sebenarnya tapi cukup mengejutkan apalagi posisiku yang sedang menuruni tangga. Aku kan mau jogging.

“Apaan sih Mas?”

“Masak Mas cowok dikasih imbalan boneka!”

“Emang siapa yang ngasih?”

“Lah itu kan yang dikasih sama gurumu itu.”

Spontan aku ngakak. Menyadari kesalahanku karena langsung memberikan imbalan dari Bu Siska pada Mas Alif. Aku juga tidak tahu darimana Bu Siska tahu bahwa aku sangat menyukai boneka. Tapi aneh juga jadinya Mas Alif dikasih boneka teddy bear yang berwarna pink ini.

“Jadi ini untuk Nadia ya…”

“Iya itu untuk kamu tapi kamu harus ganti ya imbalan membuat gambar kemarin.”

“Yaahhh… Mas Alif kok gitu sih.” Jawabku sewot.

“Kalau boneka itu untuk Nadia terus untuk Mas apa dong?”

Iya juga ya, Mas Alif jadinya nggak dapat imbalan. Tapi kalau aku yang disuruh beli imbalannya ye sorry la yaw.

“Ya udah Mas ikhlasin aja bantu Nadia, biar dapat pahala.” Aku langsung kabur…hari ini kan aku mau pergi jogging. Menghirup udara segar di pagi hari bisa membuatku sedikit rileks dan melupakan kejadian kemarin.

“Pagi Nad…”

“Eh…Mas Bagas…pagi juga.”

“Sendiri aja?”

“Iya, eh aku duluan ya mau pulang.”

Duh kenapa cowok bersepeda itu harus muncul lagi sih. Aku nggak mau di-php-in. untuk apa dia menyapaku bersikap manis padaku, membuatku berharap kalau dia ternyata sudah punya cewek. Cewek yang ternyata juga suka sama Abangku.

Kenapa sih kehidupan remaja begitu runyam? Beberapa waktu lalu Ririn bilang Bagas suka sama aku. Kemudian dia ternyata malah pacaran sama Mia eh rupanya Mia juga suka sama Mas Alif. Hei tunggu Mia dan Bagas, aku dan Mas Alif. Ada benang merah disitu. Aku dan Mas Alif dekat, Mia dan Bagas dekat tapi kan Mia dan Bagas bukan kakak beradik seperti kami.

“Pulang kok sambil melamun sih?” Aku terkejut pada sumber suara. “Aku ngikutin kamu dari tadi.”

“Hah?! Masak?” tanyaku sambil terus melaju. Dan tiba-tiba Bagas mengehentikan sepedanya melintang di depanku sehingga aku tidak bisa lari lagi.

“Kenapa Nad? Sepertinya kamu menghindari aku?”

“Iya Nadia tidak mau terlalu berharap pada pacar orang.”kataku memberanikan diri.

“Jadi kamu sudah punya pacar Nad?”

“Bukannya terbalik, Mas Bagas yang sudah punya pacar.” Kataku sambil berlalu karena tak sanggup menahan air mata yang tumpah.

Tiba-tiba Bagas sudah menjajariku lagi.

“Aku belum punya pacar Nad.”

“Bohong!!!” kataku sambil masuk ke dalam rumah. Kuintip dari dalam rumah. Bagas nampak kecewa tapi tak lama kemudian dia pergi.

***
“Ecieeee….yang lagi jatuh cinta.” Goda Mas Alif.

“Yey siapa juga yang jatuh cinta.”

“Owh berarti lagi patah hati ya…”

“Iiih apa sih Mas ni…”

“Abis kemarin liat ada cowok di depan rumah waktu Mas pulang jogging.”

“Mas jogging juga?”

“Iya dong emang kamu aja yang jogging.” Aku yang tadinya ingin menghindar dari Mas Alif tiba-tiba jadi penasaran. Apa dia melihatku ribut dengan Bagas? Jangan-jangan Mas Alif juga melihatku menangis.

Mas Alif beranjak dari depan TV menuju dapur. Aku mengekor.

“Mas lihat Nadia juga waktu jogging?”

Yang ditanya tidak menjawab hanya tersenyum simpul saja sambil berlalu kembali menonton TV.

“Aih Mas kok diam saja sih?”

“Sssst acaranya lagi seru.”

Aku terdiam. Sial! Mas Alif jual mahal.

“Kabar Kak Mia gimana?”

“Baik.”

“Nadia nemuin surat Kak Mia kemarin di kolong meja makan.”

“Hah?! Serius Nad? Mana balikin!” Seru Mas Alif. Hihihi yes berhasil mengalihkan perhatian Mas Alif.

“Iya kemarin Mas lihat kamu sama Bagas, tapi Mas nggak perhatikan sih. Emang kalian ngapain?”

“Nggak ada sih tapi aku lagi sebel sama Mas Bagas.”

“Kenapa?”

“PHP, pemberi harapan palsu.”

“Kok bisa.”

“Lha Nadia kan sudah cerita kemarin, Nadia lihat Mas Bagas tuh sama Mia di halte bercanda berdua gitu, lagian Mia pegang tangan Bagas.”

“Lho Mas juga sudah cerita Mia itu suka sama Mas dan Bagas sama Mia itu sepupuan.”

“Sepupu?”

“Iya.”

“Jadi…aku…salah dong.” Mas Alif hanya mengangguk.

“Mana surat Mia?”

“Nggak tahu.”

“Katanya kamu nemuin di bawah kolong meja makan.”

“Nadia bohong…” aku langsung berlari meninggalkan Mas Alif.

“Ngapain ngos-ngosan gitu Nad?” tanya Ririn ketika aku sampai depan rumahnya.

“Hehehe…” Kemudian aku masuk ke rumah Ririn.

“Masak apa hari ini Rin?”

“Hari ini nggak masak Nad, ada Tante Ulli dari Jakarta jadi dia yang beli lauk.” Kemudian lanjutnya, “kamu belum menjawab pertanyaanku kenapa ngos-ngosan gitu?”

“Hehehe aku habis ngerjain Mas Alif, aku tipu dia.”

“Menipu Mas Alif? Menipu apa?”

“Aku bilang aku simpan surat dari cewek yang suka dia padahal aku bohong Rin hihihi.”

Ririn hanya bengong, dia tidak ikut tertawa. Ups aku lupa Ririn kan suka Mas Alif.

“Errr maaf Rin, tapi Mas Alif nggak suka kok sama cewek itu.”

“Nggak apa-apa kok Nad. Tapi berani juga ya cewek itu menulis surat untuk Mas Alif.”

“Dia itu pelatih pramukaku sekarang Rin, cantik sih tapi entah kenapa aku kurang suka, dan sepertinya dia juga tidak tahu kalau aku ini adik Mas Alif. Eh tapi kamu nggak sedih kan Rin?”

Ririn tersenyum.

“Enggaklah Nad, aku juga nyadar diri, nggak mungkin Mas Alif menyukai aku Nad.”

“Hmmm…seseorang itu dipandang bukan dari fisik lho Rin, aku tahu kenapa kamu berkata begitu. Itu karena kamu merasa kalah kan dengan cewek-cewek yang bersekolah itu? Padahal semua akan dinilai dari sini Rin.” Kataku sambil menunjuk ke dada.

Ririn kembali tersenyum.

“Ah Nad aku selalu menjadi orang yang tersingkir kok, lihat saja Nenekku lebih sayang kepada Reni daripada aku. Sekarang kalau Mas Alif menyukai cewek lainpun rasanya itu sudah takdirku Nad.

Aku hanya terdiam. Ririn sejak aku mengenalnya dia ikut Neneknya yang tinggal di sebelah rumahku. Rumah yang ditempati Nenek Ririn itu adalah hadiah dari Mamanya Reni yang mau menjadi istri kedua dari seorang pengusaha. Sedangkan orang tua Ririn seperti yang sudah kuceritakan mereka bercerai masing-masing menikah lagi dan mempunyai anak, tinggalah Ririn yang nestapa.

Nenek Ririn juga kurang sayang pada Ririn, menurutku. Setiap kali aku melihat Ririn sering disakiti, kalau ada yang salah dia dibentak. Aku sering mendengar bentakan itu saat menyapu dan menyiram halaman depan. Ririn juga hanya disekolahkan hingga Sekolah Dasar saja itupun atas bantuan Bunda, kalau tidak mungkin Ririn akan menjadi anak putus sekolah. Sedangkan Reni kini sudah bersekolah di SMP yang tidak jauh dari komplek rumah kami dan kini dia sudah duduk di kelas 9.

Melihat Ririn dan Reni ini seperti melihat cerita bawang merah dan bawang putih. Untunglah semenjak SMP Reni tinggal dengan Mamanya jadi aku tidak lagi melihat ketidakadilan perlakuan terhadap cucu disini. Selain itu Tanta Ulli yang dibilang Ririn tadi nampaknya sayang padanya.

***
Tadinya aku semangat tiap latihan pramuka tapi kini entah kenapa aku agak ogah-ogahan. Pertama aku malu pada Bagas yang sebelum menjelaskan segala sesuatunya sudak ku judge ‘bohong’. Aku juga malas ketemu Mia, aku merasa dia merebut Mas Alif dari Ririn. Ah entah kenapa padahal Mas Alif sudah bilang bahwa dia tidak menyukai Mia, mereka hanya berteman.

Sudah beberapa hari ni sejak kejadian hari Minggu pagi hingga selasa sore ini aku belum melihat Bagas. Entahlah kenapa dia tidak muncul di saat aku ingin bertemu.

“Kenapa Nad? Hari ini lesu banget?”

“Entahlah Mbar, aku nggak tahu.”

“Apa gara-gara Bagas nggak masuk?” tanpa sadar aku mengangguk.

“Ahai..sudah sampai mana hubungan kalian kenapa aku tidak diberi tahu.” Ambar kembali buka mulut. Aku Cuma melihatnya sebentar. Kemudian balik lagi. Diam

“Yaahh…kok diam aja sih Non? Cerita dong…”

“Nanti ah kalau suasana hatiku sedang membaik. Sekarang sebaiknya kita catat dulu barang-barang yang dibutuhkan untuk kemah, nanti biar Kak Agni yang membagi tugasnya.”

“Nggak seru ah.” Ambar manyun.
“Giliran aku semangat kamu malah manyun. Dasar Ambar jelek.” Ambar menjotosku dengan kuat karena kubilang jelek. Hehehe sebenarnya dia cantik sih, ananknya tomboy, rambutnya tidak pernah lebih dari telinga, kulitnya nampak sekali kalau dia sering bermain panas-panasan, gerakan Ambar juga cukup gesit. Ambar juga gadis yang memiliki tubuh atletis, tinggiku hanya sepundaknya saja.

Dari kejauhan kulihat Pak Sodikh agak cemas. Entah kenapa perasaanku tidak enak, kuhampiri beliau.

“Ada apa Pak? Nampaknya Bapak cemas.”

“Iya Nad, barusan Bapak mendapat kabar dari Mia kalau Bagas kecelakaan.”

Tiba-tiba denyur jantung dan aliran darahku serasa mau berhenti.
Bab V. Galau
“Jadi gimana kalian ikut?” Ambar bersuara pagi itu.

Dina yang pertama menggeleng, “Aku memang pengen lihat dia tapi rasanya janggal kami tidak pernah berkenalan dan jarang bertemu kalau kamu yang menjenguk itu lebih pantas Mbar.”

Dan akhirnya yang lainpun mengagguk setuju dengan pendapat Dina. Yah memang betul sih untuk apa mereka menjenguk si Bagas malah jadi aneh nantinya.

“Udah Nad jangan sedih, kan luka Bagas tidak terlalu parah, dan katanya minggu depan dia sudah bisa membantu kita lagi.”

Ini semua salahku, tidak ada orang yang tahu. Pagi itu aku mengatainya bohong dan setelah itu menurut dug.-Kumpulan Cerita Sek 2016,Cerita Sek Remaja,Cerita Sek Selingkuh,Cerita sek Pemerkosaan,Cerita Sek Pramugari,Cerita Sek Mesum 2016.
JUDI TEXAS POKER QQ ONLINE Taruhan Judi Poker Online Judi Poker Online
Share this video :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. hsgfhafg - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger